Kejati Sultra Dinilai Lamban Eksekusi Dirut PT AKP

0 Komentar

Kasipenkum Kejati Sultra, Dodi.

KENDARI, INIKATASULTRA.com – Polemik perseteruan dugaan penipuan pertambangan yang menyeret Direktur PT Adhi Kartiko Pratama (AKP), Ivy Djaya Susanto alias Tyo, dengan pemilik PT Adhi Kartiko (AK) sudah berganti menjadi PT Adhi Kartiko Mandiri (AKM), Obong Kusuma Wijaya dan Simon Takaendeang terus berlanjut.

Kasipenkum Kejati Sultra Dodi mengungkapkan JPU Kejati Sultra telah melayangkan surat panggilan eksekusi kepada terpidana penipuan Tyo. Namun, terpidana melalui pengacaranya belum bisa memenuhi panggilan tersebut dikarenakan pengacara terpidana masih berada di Jakarta karena sesuatu hal.

“Benar, JPU sudah melayangkan surat panggilan pertama kepada terpidana Ivy Djaya Susanto,” ucapnya Dodi dalam keterangan persnya, Senin (07/06/2021).

Lanjut Dodi mengungkapkan jika Kejati Sultra terlambat menerima salinan putusan kasasi Mahkamah Agung (MA). Dikatakan Dodi, pemanggilan terhadap terpidana Ivy Djaya Susantyo untuk selanjutnya dieksekusi sesuai dengan putusan MA.

Kejati Sultra akan mengeksekusi paksa kepada yang bersangkutan jika tidak memenuhi panggilan.

“Kami akan berkoordinasi dengan pihak Kepolisian dan mengirimkan tim untuk menjemput paksa terpidana Ivy Djaya Susanto,” tegas Dodi.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah Kuasa Hukum PT AKM, Jonathan Nau menyikapi polemik penambangan yang terus dilakukan oleh PT Adhi Kartiko Pratama dikaitkan dengan masih bebas berkeliarannya pemilik PT Adhi Kartiko Pratama.

Jonathan Nau mempertanyakan tentang kepastian hukum tentang penjahat masih terus dibiarkan berbuat kejahatan dan masih terus dibiarkan berkeliaran.

“Kami menyayangkan Kejati Sultra dan semua pihak yang terkait karena mereka justru menunggu inisiatif dari pengacara terdakwa. Dan bukannya langsung melakukan eksekusi karena petikan putusan Mahkamah Agung (MA) sudah di tangan. Ini menjadi preseden buruk penegakan hukum di Sultra,” kata Jonathan.

Lanjut Jonathan mengatakan, kalau hal seperti ini terus dibiarkan dan tidak menjadi perhatian yang serius untuk para pihak yang berwenang.

Ini akan menimbulkan sebuah kecemburuan Hukum yang berakibat anarkisme.

“Dan orang tidak akan percaya lagi dengan penegakan hukum yang ada di Sulawesi Tenggara. Dan kami sangat menyayangkan kalau penjahat ini sangat dilindungi dan dibiarkan terus berkeliaran,” imbuhnya.

Menurut Jonathan, Kejati Sultra tidak seharusnya berbelit-belit dengan melayangkan surat panggilan kepada Ivy Djaya Susanto.

Sehingga memperlambat waktu eksekusi atau penahanan terpidana Ivy Djaya Susanto.

Sebagaimana diberitakan, Mahkamah Agung telah memutuskan IUP PT Adhi Kartiko sah milik PT AKM. Hal itu dibuktikan dari putusan Mahkamah agung (MA) yang resmi memvonis bersalah kepada terdakwa penipu bernama Ivy Djaya Susantyo.

Terdakwa dijatuhi hukuman selama 1 tahun. Tak hanya itu, MA juga membatalkan putusan Pengadilan Negeri Kendari yang sebelumnya bernomor : 418/pid-B/PN Kendari/2020 tanggal 22 Desember.

Putusan Mahkamah Agung ini merupakan hasil dari permohonan kasasi Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang tidak puas dengan putusan pengadilan negeri kendari.

Nah, dalam amar putusan MA, Ivy Djaya Susanto terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan penipuan terhadap pelapor dalam hal ini Obong Kusuwa Wijaya selaku pemilik sah PT Adhi Kartiko dan juga Simon Takaedengan sebagai Dirut PT AK.

Ivy melakukan pemalsuan tanda tangan Komisaris Utama PT AK dengan bentuk persetujuan tidak keberatan perubahan nama IUP.

Status Ivy pun akan berubah dari terdakwa menjadi terpidana. Eksekusi dilakukan setelah Mahkamah Agung (MA) resmi memvonis bersalah terdakwa penipu bernama Ivy Djaya Susantyo. Terdakwa dijatuhkan hukuman selama 1 Tahun. Tak hanya itu, MA juga membatalkan putusan Pengadilan Negeri Kendari yang sebelumnya bernomor: 418/Pid-B/PN Kendari/2020 Tanggal 22 Desember.

Petikan putusan MA tersebut telah diterima oleh pihak Pengadilan Negeri (PN) Kendari. Salah satu poin dalam putusan tersebut, MA menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 1 tahun. (**)

Penulis : Rahmat R
Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment