Seorang TKA Diduga Positif COVID-19 Meninggal di RS Bahteramas

0 Komentar

KENDARI, INIKATASULTRA.com – Seorang Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di PT. Obsidian Stainless Steel (OSS) meninggal dunia di IGD RS Bahteramas, Jumat, (13/11/2020).

Pria berusia (54) ini diketahui bekerja sebagai kontraktor. Juru Bicara PT VDNI dan PT OSS, Dyah Fadilat menyampaikan, pekerja yang berasal dari Shandong, China itu, sudah berada di Kawasan Industri Morosi sejak 14 Januari 2020 sebagai pekerja di kawasan PLTU dan tidak pernah meninggalkan kawasan pabrik karena yang bersangkutan juga tinggal di asrama karyawan milik PT OSS.

Berdasarkan hasil investigasi internal yang dilakukan perusahaan, pada tanggal 12 November 2020, yang bersangkutan merasakan sakit dan kemudian dilarikan ke RS Dr Ismoyo Kendari, pada pukul 22.12 WITA, setelah sempat jatuh dari tempat tidur.

Sesuai protokol di RS tersebut, pasien diwajibkan untuk melakukan rapid test kepada korban, dengan hasil non-reaktif. Yang bersangkutan sempat diberikan bantuan oksigen dan pernapasan, hingga kemudian dirujuk ke RS Bahteramas Kendari pada tanggal pukul 22.40 WITA, karena pertimbangan peralatan yang lebih lengkap dan riwayat penyakit yang dimiliki yaitu masalah pada jantung dan gangguan pernapasan (asma).

Ketika dirawat di RS Bahteramas, sesuai protokol dilakukan tes PCR atau polymerase chain reaction kepada yang bersangkutan pada tanggal 13 November 2020 pukul 00.30 WITA. Yang bersangkutan kemudian meninggal dunia pada 13 November 2020 pukul 04.05 WITA.

Menurut keterangan dokter yang bertugas yang diterima perusahaan, penyebab kematian adalah penyempitan pembuluh darah di otak. Setelahnya diketahui bahwa hasil tes PCR yang dilakukan menunjukkan hasil positif virus SARS-CoV-2. Karena hasil tes PCR menunjukkan positif, penanganan jenazah oleh RS Bahteramas dilakukan dengan mengikuti protokol COVID-19. Jenazah kemudian langsung dikremasi pada tanggal 13 November 2020 sore.

Merespon hal tersebut, pihak kontraktor yang mempekerjakan TKA tersebut untuk PT OSS berinisiatif untuk memperketat sistem kerja mereka dan melakukan tes rapid massal kepada seluruh pekerjanya sejak tanggal 14 November 2020.

Pihak perusahaan akan terus mengawal kasus ini dan melakukan sterilisasi Kawasan Industri, salah satunya dengan untuk sementara waktu mencegah karyawan atau Pekerja Harian Lepas (PHL) yang tidak tinggal di dalam asrama masuk ke dalam area Kawasan Industri.

“Sebagai bagian dari upaya untuk mencegah kemungkinan terburuk, dan mempertimbangkan tidak semua pekerja yang ada di Kawasan Industri tinggal di dalam asrama, maka perusahaan memutuskan untuk membatasi aktivitas karyawan yang tidak tinggal di dalam asrama. Hal ini akan berlaku hingga nanti kembali dilakukan tes massal kepada seluruh pekerja dan hasilnya dipastikan aman untuk beraktivitas kembali,” tambah Dyah.

Dyah menambahkan, VDNI dan OSS selama ini selalu bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat untuk menerapkan protokol kesehatan yang ditetapkan, seperti rutin melakukan tes rapid maupun PCR.

“Ke depan pun kerja sama akan terus dilakukan untuk memastikan seluruh karyawan yang bekerja di Kawasan Industri Morosi dalam keadaan sehat dan aman untuk beraktivitas,” tutupnya. (Red/RS)

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment