Kades Lowu-lowu Terseret Arus Bantuan Katinting Yang Diduga Bermasalah

0 Komentar

BUTENG, INIKATASULTRA.com – Penyaluran bantuan 36 unit Katinting nelayan di Desa Lowu-Lowu, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah (Buteng), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Bantuan yang bersumber dari dana desa tahun anggaran 2020 itu diduga bermasalah, karena spesifikasi dan jenis mesin tidak sesuai dengan kesepakatan dalam musyawarah desa sebelumnya.

Persoalan itu kemudian diadukan para nelayan penerima bantuan kepada Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) dan Inspektorat, selanjutnya dilaporkan kepada Bupati Buteng H Samahuddin di Rumah Jabatannya, Selasa (17/11/2020).

“Pengadaan Katinting Viber yang diperuntukan kepada kami, tidak sesuai dengan hasil Musdes yakni harus sama dengan bantuan 2019 sebagai bantuan lanjutan. Sekarang ini beda, tidak sesuai spesifikasi awal tujuh meter.
Selain itu tidak ada tulangnya, sehingga mudah oleng dan gampang terbalik,” beber salah satu penerima bantuan, La Iwa, kepada sejumlah media usai melapor bersama rekan-rekannya.

Tak hanya bentuk body perahu, La Iwa dan rekan-rekannya juga mempermasalahkan mesin Katinting. Dalam Musdes, masyarakat meminta mesin Honda Thailand harga Rp 5,5, juta. Namun rupanya Pemdes Lowu-Lowu membeli mesin merk China harga Rp 3 juta lebih.

“Pengalaman kami yang sering melaut, mesin merk China kalau sudah jauh berlayar dan panas akan langsung mati. Beda dengan mesin Honda atau Yamaha, semakin panas mesin semakin bagus jalannya,” tukas Iwa.

Dengan kondisi tersebut, ia dan rekan-rekannya menolak menandatangani penyerahan bantuan Katinting Viber dari Pemdes Lowu-Lowu, karena dinilai tidak berkualitas dan tidak nyaman dipakai serta sangat beresiko bagi keselamatan saat melaut.

“Sebenarnya, kami menawarkan solusi juga untuk memperbaiki body perahu dengan menambahkan ketebalan dan tulang perahu, yang penting pemerintah desa menyiapkan bahannya. Tapi, mereka tidak mau dan tidak ada solusi lain. Malah, kami diancam bantuan akan ditarik,” tuturnya.

Pihaknya juga menyayangkan kebijakan yang diambil Pemdes Lowu-Lowu yang tidak memberdayakan masyarakat, dimana sejak awal bantuan perahu tersebut diminta dibuat saja di Desa Lowu-Lowu, karena banyak masyarakat Lowu-Lowu sendiri yang pintar membuat perahu viber.

“Justru pemerintah desa memberdayakan orang luar dengan membuat perahu Katinting tersebut di Wanci, Kabupaten Wakatobi. Mungkin kalau dibuat di Desa Lowu-Lowu, harga bahan dan lain-lain bisa ditahu masyarakat, sehingga memilih dibuat di Wanci supaya bisa mencari untung,” tuding Iwa.

Menanggapi keluhan masyarakatnya tersebut, Kades Low-Lowu Karim Wendo yang juga hadir di Rujab Bupati Buteng memberikan bantahan. Mulai dari masyarakat yang datang mengadu ke Pemkab Buteng, hingga masalah spesifikasi perahu dan mesin.

“Yang datang tadi itu bukan atas nama masyarakat Desa Lowu-Lowu secara keseluruhan. Hanya masyarakat satu dusun saja, yakni Dusun Lowu-Lowu. Ada 36 unit bantuannya, yang terima 19 orang dan menolak 15 orang,” katanya.

Terkait bantuan lanjutan yang spesifikasinya harus sama dengan 2019, Karim mengaku pihaknya juga banyak mendengar aspirasi masyarakat lainnya yang menginginkan jangan disamakan dengan 2019. Sehingga dirinya meminta Tim Pengelola Kegiatan Desa (TPKD) untuk mengadakan bantuan Katinting Viber tidak harus sama dengan 2019.

“Setelah itu, semua saya serahkan sepenuhnya kepada TPKD dari mulai lelangnya. Kenapa perahu Katinting Vibernya harus dibuat di Wanci, nantinya tanya TPKD-nya. Memang di Desa Lowu-Lowu banyak yang bisa bikin, tapi kita tidak tahu lokasinya dimana,” terang Karim.

Menurutnya, bantuan 2020 ini spesifikasinya lebih bagus dan lebih tebal, serta ukurannya lebih besar. “Cuma kekurangannya tidak ada tulangnya. Kalau masalah oleng itu tidak juga. Kalau sudah ada barang atau muatannya sudah tidak oleng,” bantah Karim.

Hanya saja, Karim mengakui merk mesin berbeda dengan tahun sebelumnya. 2019 lalu merek made in Thailand dan 2020 ini merek made in China.

Mengenai tudingan mesin Katinting yang dibeli hanya Rp 3 juta lebih, Karim lagi-lagi “menyeret” TPKD. “Itu urusan TPKD dengan pihak perusahaan. Yang jelas dalam APBDes itu harga perahu Katinting Rp 11 juta dan mesin Rp 5,5 juta,” tukasnya.

Ia kemudian menyebut TPKD dipimpin Rahmawati Djoysman SE, beranggotakan Ahmad Rauf dan lainnya serta bendahara Emilisa.

Diseretnya nama-nama TPKD tersebut, media ini pun mencoba menghubungi Ketua TPKD Desa Lowu-Lowu melalui kontak Djoysman Mahuzi, suami Rahmawati pukul 16.00 Wita. Djoys meminta nanti dihubungi ulang karena akan mengkomunikasikan persoalan ini dengan isterinya, sekaligus mengirimkan nomor kontaknya.

Dihubungi kembali menjelang Magrib, namun tidak diangkat. Malamnya, beberapa kali dihubungi kontak Djoys sudah tidak aktif. Namun, dari komunikasi awal ia sempat memberikan jawaban terkait persoalan yang menyeret isterinya.

“Memang masyarakat Lowu-Lowu hari ini mengeluh, tapi tidak semua masyarakat. Yang mengeluh itu hanya beberapa orang yang turun (Ke Rujab Bupati, red), khususnya Dusun Lowu-Lowu. Mereka itu tidak bertanda tangan,” tutur Djoys.

Ia mengakui, Perahu Katinting Viber dipesan di Wanci. Tapi lebih bagus dari sebelumnya yang dikerja di Baubau oleh Kades lama. Sekarang lengkap dengan penutup mesinnya. Tingginya juga kalah jauh. Sebelumnya anggarannya Rp 12 juta, sekarang Rp 11 juta.

“Kalau panjangnya, jujur memang kurang 10 sentimeter. Tapi tingginya lebih tinggi lagi, bahkan pakai penutup mesin. Sedangkan yang lama tidak ada penutup mesinnya,” bebernya.

Djoys menduga, persoalan ini imbas dari perpolitikan yang ada di desa. “Saya yakin, isteriku juga akan bertanggungjawab sebagai TPKD. Kalau perlu kita lakukan perbandingan body viber yang harga Rp 12 juta dengan yang Rp 11 juta,” singkat Djoys.

Sebelumnya, Kepala Inspektorat Kabupaten Buteng La Ode Albakri akan menindaklanjuti laporan dan pengaduan masyarakat Desa Lowu-Lowu kepada bupati, terkait pengadaan barang dan jasa kebutuhan nelayan, yakni bantuan Perahu Katinting lengkap dengan mesinnya.

“Hari ini juga kami akan turun ke lapangan (Desa Lowu-Lowu, red) bersama tim, untuk memeriksa kesesuaian antara perencanaan dengan fisik barangnya,” kata Albakri.

Tak hanya itu, pihaknya juga akan mempertanyakan peran pendamping desa untuk dievaluasi. Sehingga didapatkan simpul-simpul permasalahan yang ada.

“Apabila ada kerugian negara terkait pengadaan barang dan jasanya, maka kita akan hitung nanti berapa nilainya. Kemudian kita minta pertanggungjawaban yang bersangkutan,” tegasnya.

Bupati Buteng H Samahuddin yang dimintai tanggapannya, belum bisa berkomentar banyak karena masih ditelusuri kebenaran laporan dari para pengadu. Untuk saat ini, dirinya hanya menyerahkan sepenuhnya kepada Inspektorat.

“Saya hanya perintahkan Inspektorat untuk melakukan pemeriksaan di lapangan. Hari ini saya perintahkan turun, besok saya terima hasilnya,” tandasnya.

Orang nomor satu di Buteng ini mengaku, setiap ada kesempatan atau pertemuan dengan kepala desa atau perangkat desa, dirinya selalu mewanti-wanti untuk hati-hati membelanjakan anggaran dana desa.

Informasi yang dihimpun media ini, pagu anggaran Dana Desa 2020 untuk bantuan Katinting Viber Desa Lowu-Lowu ini sebesar Rp 401.940.000 sebanyak 36 unit.(publiksatu)

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment