Kunjungan ke Sultra, Jokowi Resmikan Pabrik Gula Terbesar Se-Asia Tenggara

0 Komentar

BOMBANA, INIKATASULTRA.com – Hari ini Kamis (22/10)2020), Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan akan mengunjungi Sulawesi Tenggara (Sultra), dengan agenda peresmian Pabrik Gula di Bombana dan Jembatan Bahteramas di Kota Kendari.

Pabrik gula milik PT Prima Alam Gemilang (PAG) yang berlokasi di Desa Watuwatu, Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, Sultra, sudah sejak empat tahun lalu dikebut pembangunannya.

Siaran pers Juru Bicara Gubernur Sultra, Ilham Q Moehiddin, Rabu (21/10/2020) menyebutkan pabrik gula ini berkapasitas giling hingga 12.000 TCD (ton cane per day), atau 1,8 juta TCD setiap tahunnya. Selain itu, pabrik ini pun dapat menghasilkan 600 Ton gula putih (rafinasi) per hari. Dengan kapasitas produksi sebesar ini, diklaim merupakan pabrik gula dengan jumlah produksi terbesar di Asia Tenggara yang dimiliki oleh pengusaha dalam negeri.

“Partisipasi Pabrik Gula Bombana ini untuk menopang program pemerintah dalam upaya swasembada gula dan kedaulatan pangan, sehingga dengan kapasitas produksi gula sebesar itu, PAG Bombana berkomitmen bisa memenuhi kuota gula Indonesia bagian timur dengan harga di bawah HET sehingga masyarakat dapat menikmati gula dengan konsumsi dan harga yang wajar,” jelas Ilham.

Data Kementerian Perindustrian menyebut produksi gula di Indonesia saat ini sebesar 2,2 juta ton per tahun, sementara kebutuhan gula nasional mencapai 5,8 juta ton per tahun. Sehingga pabrik gula di Bombana yang merupakan bagian dari sepuluh lokasi pabrik gula lainnya yang dibangun pemerintah, sekiranya dapat menutup defisit kebutuhan gula nasional dan menjadikan Indonesia swasembada gula.

Sehingga, Kementerian Perindustrian memang serius mendorong pembangunan pabrik gula baru yang terintegrasi dengan perkebunan tebu sehingga dapat beroperasi dengan penuh. Kewajiban terintegrasi dengan perkebunan tebu yang dimaksud tersebut memiliki beberapa ketentuan, antara lain adalah perkebunan tebu dimiliki sendiri oleh perusahaan industri ataupun bermitra dengan petani tebu.

“Secara tidak langsung, selama beroperasi keberadaan perusahaan tersebut juga mampu mengangkat kesejahteraan warga berupa pemenuhan lapangan kerja di tengah ancaman resesi ekonomi dan PHK akibat dampak pandemi Covid-19,” kata Ilham. (Aroelkendari)

Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment