Sebut Indonesia Aman dari Jurang Resesi Ekonomi, Luhut: Kita Harus Kompak

0 Komentar

Luhut Panjaitan saat tiba, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (22/10). Foto Ricardo/JPNN.com

KENDARI, INIKATASULTRA.com – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan mengaku yakin jika kondisi makro ekonomi Indonesia masih aman dan jauh dari bayang-bayang resesi ekonomi.

Hal itu dikatakan Luhut beberapa hari setelah negara tetangga, Singapura secara resmi dinyatakan dalam kondisi resesi ekonomi usai dalam dua triwulan berturut-turut pertumbuhan ekonominya berada dalam teritori negatif.

Dikutip dari lokadata.id, LBP, sapaan akrabnya, mengatakan jika kondisi ekonomi Indonesia masih baik-baik saja. Hal itu diperkuat dengan berbagai indikator ekonomi yang ada.

“Yang jelas kita jauh dari resesi kalau melihat indikator-indikator kita sekarang. Tapi kalau kita tidak hati-hati, bisa saja kena. Singapura saja kena,” kata LBP kepada lokadata.id pada Rabu, 15 Juli 2020.

Menurut LBP, salah satu faktor mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dalam teritori positif, selain karena angka inflasi yang masih terjaga, juga dikuatkan oleh kebijakan yang diambil oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, salah satunya adalah penerapan Pembatasa Sosial Berskala Besar (PSBB)

“Mereka (Singapura) itu sudah mengeluarkan Rp1.000 triliun lho. Orang bilang kita harus lockdown-lockdown. Untungnya enggak. Kalau melakukan lockdown, bisa bubar kita sekarang. Sebab itu kita bikin lockdown gaya Indonesia, yaitu PSBB. Dan PSBB itu dipuji sama IMF dan Bank Dunia. Langkah kebijakan kita dianggap bagus,” imbuhnya.

Penerapan PSBB, kata Luhut, telah berdampak bagus terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Hanya saja, ia masih khawatir dengan adanya ancaman second wave atau gelombang kedua pandemi Covid-19 yang sewaktu-waktu bisa datang dan menghantam ekonomi Indonesia.

“Dampaknya bagus ya. Kita sih optimis banget. Yang kita takut itu jika ada second wave. Semoga enggak ada. Kalau ada second wave, aduh. Dampaknya enggak bagus. Kasihan rakyat. (Tapi) tergantung. Kalau semua disiplin, mestinya enggak ada gelombang kedua. Saya sih takut soal disiplin rakyat kita. Kadang-kadang ceroboh, suka mengentengkan. Janganlah begitu. Makanya saya bilang, masyarakat yang disiplin itu ajak lah yang kurang disiplin. Supaya disiplin juga,” bebernya.

Luhut mengajak semua pihak di negeri ini agar kompak dalam menghadapi keadaan akibat dari pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih dari satu semester ini.

“Singapura technically sudah masuk resesi ya. Nah, kita jangan sampai ke situ. Padahal mereka ini menyalurkan stimulus sekitar Rp1000 triliun untuk kurangi dampak pandemi Covid­-19. Tapi tetap saja resesi. Nah kita ini baru Rp500 triliun. Coba bayangkan. Size kita ini jauh lebih besar. Tapi mereka masih kena resesi juga. Jadi, kita itu harus betul-betul kompak untuk menjaga negara ini,” jelasnya.

Selain itu, investasi asing yang terus masuk ke Indonesia, menurutnya, membuat perekonomian dalam negeri semakin tumbuh dan kuat. Apalagi jika investasi itu diakselerasi dengan dukungan kebijakan pemerintah yang kompak antar berbagai kementerian dan lembaga.

“Ya investasi asing tadi juga sudah mulai masuk. Kalau ini jalan semua, lalu ditambah speed-nya, maka kita masih bisa plus. Dengan catatan tidak ada gelombang kedua pandemi pada tahun ini. Indonesia itu dianggap negara penuh harapan. Apalagi kalau RUU Omnibus Law nanti selesai. Itu mempermudah kita melakukan harmonisasi antar kementerian dan lembaga,” imbuh Luhut.

Sementara itu, terkait dengan isu Tenaga Kerja Asing yang masuk ke Indonesia, menurutnya, hal itu dalam rangka menciptakan lapangan kerja baru bagi ribuan tenaga kerja lokal.

“Isunya itu bawa TKA kemari akan mematikan pegawai di sini. Lah, memang kita gila. Mereka itu kita undang untuk bikin lapangan kerja. Kemarin itu, TKA datang sebanyak 300 orang, untuk menyiapkan lapangan kerja sebanyak 5000 orang. Mereka itu datang untuk menciptakan lapangan kerja. Kemarin baru ada tanda tangan antara pemerintah daerah Konawe (dengan PT VDNI dan PT OSS),” tegasnya.

Luhut mengatakan, hal tersebut merupakan sesuatu yang lumrah dan terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Ia meminta berbagai lapisan masyarakat tidak lagi mempermasalahlan hal tersebut.
Yang kayak begitu kan terjadi di mana-mana.

“Di Bintan misalnya. Sekarang itu TKA-nya ada 700 tapi tenaga kerja dari Indonesia ada 5000 orang. Nantinya akan menciptakan lapangan kerja untuk 20 ribu orang. Ini kan proses. Saya bilang, pergi saja ke sana. Lihat langsung. Bener enggak. Begitu. Eh enggak mau. Kadang-kadang kita pikir, ini orang sebenarnya mau negerinya maju atau tidak,” tegas Luhut. (RF)


Tulisan ini berasal dari redaksi

Comment